Seperti orang yang lama terdampar di daratan, kita (rombongan reog) sangat mengidam-idamkan lautan, emang sih agak kebalik (biasanya orang terdampar di lautan nyari daratan). Perjalanan cukup melelahkan Ciganjur-Cikotok (tempat Mo menikah), cukup terobati dengan adanya pantai dan laut. Kecuali gw yang make baju ijo, kata mas Irwan Nyai pantai selatan nggak suka warna ijo, katanya gw mending jauh-jauh dari pantai, padahal dia juga make baju warna ijo. Huh, dasar... underistimit.
Perjalanan udah memakan waktu 5-6 jam, dan lokasi masih jauh. Sekitar jam 9 malam, hujan deras, di dalem mobil Budi teriak... "laut... lauuttt..." yang bikin acara ngorok gw terhenti.
"Lautt.... lautttt............"
"Heh, laut? mana? Bud, itu bukan laut, itu banjir, di Jakarta juga banyak kayak beginian."
"Lautt... lauutttt...."
"Elu sakaw apa lagi sange sih?" kata gw dalam hati.
Akhirnya semua yang di dalem mobil ikut-ikutan gila pada teriak "lautt... lautttt..."
Selang beberapa menit, akhirnya bener kita sampai di daerah Pelabuhan Ratu. Hmm... laut di malam hari... hujan... pantai yang sama sekali nggak bisa dinikmati (kecuali buat kencing mas Giri). Kita istirahat, makan mie rebus, genjrang-genjreng, sempet mampir maen billiard dan karokean trus kita kembali melanjutkan perjalanan.
Pagi harinya masih diperjalanan, kita yang tidak puas dengan situasi pantai dan kegilaan mulai parah yang menganggap jalanan seperti di pantai (bahkan sempet buka-buka baju segala), lihat betapa bodohnya mereka.
No comments:
Post a Comment